Daisypath Anniversary tickers
Showing posts with label blue. Show all posts
Showing posts with label blue. Show all posts

Sunday, 2 September 2012

Kedai Kopi: Boring Hours

Mulai kapan tau itu gue janji kepada diri sendiri untuk lebih rajin menulis. Penting untuk kesehatan jiwa.

Banyak hal yang sudah lama tidak gue lakukan stelah pindah ke Starship, jadi Starship troopers bisa tampak mudah sih, gampil kalo dibanding jadi peri-peri di lawfirm in wonderland... eh gak juga deng... maklum Starship stakeholdernya banyak... supernya lagi gue kagak bole cuti karena beberapa project besar on going sampai akhir tahun ini. So, disabar-sabarin deh mau main dipantai...

Balik ke hal yang sudah lama tidak dilakukan, salah satunya adalah permukabukuan... buset itu lama bgt, gue buka cuma pas si Susepah kakak perguruan mo ngeliat bocah main (yang ternyata gue lupa passwordnya--yaaaaah...) iseng gue buka hari ini, makin aneh aja bentukannya. tutup langsung!

Berkicau kadang-kadang gue lakukan saat mati ide atau boker. Inget boker gue jadi kangen si Kebo, gue suka telpon dia saat sembelit, entahlah ngobrol sama dia suka bikin mules, damn i miss her! Tiap pagi gue suka telpon dia, ngomong berapa menit gue lngs udahan, belom selesai cerita, pdhl gue yg telpon... akhirnya dia tanya "teh, kenapa?..." pas gue jelasin, dia malah misuh-misuh "Jan**k!". Mungkin itu sebabnya sekarang dia jarang angkat telpon dia, gue mau coba kalo gue sembelit, masi mempan gak suara dia....

Sabtu kemarin gue ketemuan sama rombongan sirkus, si wanita iblis setan-Wabistan, Cabidut sama Ciput. Singkat kata, setelah bertahun-tahun Ciput ud kewong sama Pak Polisi yang Baik Hati, sedangkan si Muka Lebar, cabidut dan wabistan masih single di KTP (salahin si KUA buah batu, buku nikah gue kagak beres!), occasionnya simple si Cabidut mo kewong! Bagi-bagi seragam dong...

Gue menyadari kalau seragam kawinan org2 sungguh banyak dilemari, sebagian udah dilego dan laku, sebagian terlalu aneh edgy... state of the art! (termasuk salah satunya kostum vasco de gamma, harus menunggu penikmat seni sejati yang paham keindahannya). Daaaan eng ing eng... seragamnya Cabidut kuning (ternyata seragam ke-2 kuning gue -- gue pulak yang bantu milih, lupa ud pny kuning), gue mulai give up juga model aneh2 (mostly karena makin aneh makin mahal jahitnya makin besar kemungkinan gagal, kecuali gue jahit sendiri), gua jahit simple2 aja...

Maunya kaya artis favorit gue si Ajol di web ini... Eh, inget gue, kawinannya di mesjid agung, bisa lempar jumroh orang gue pake baju anonoh... Jadi gimana dong? Gue merasa sejak malam itu, gue berubah, tidak terlalu bersemangat, tidak ada ide gila segar mengalir, mati ide... Entah mengapa. I feel tired, cuma pengen tidur bobok makan pizza sambil nonton film sampah di TV. Arghhh, I really holiday!

Friday, 7 January 2011

Ujung Genteng #1: How i met si Mata Sendu

Liburan natal ini disambut gegap gempita, bagi sebagian orang. Bagi kami? Well, we're just got back from Bali. Having a great weekend. Uang habis, kami pun bingung. Mau ke mana ya? Ide pun bermunculan, Ujung Kulon? Mahal sewa kapalnya, musim hujan pula. Karimun Jawa, musim hujan, kapal ga nyebrang. Nonton bola di Malaysia? Tiket gak dapet, yang paling krusial sih, mahal (tiket mahal sih masi ada, yang murah yang gak ada). Jadi balik, kita lagi miskin. Tercetus lah ide, Ujung Genteng!
Dengan modal browsing hotel, uang secukupnya, si Kecil Kayimun, peta dan perbekalan berangkatlah kami ke Ujung Genteng, yang merupakan bagian dari kota/kabupaten Sukabumi. Terletak di sebelah barat daya Pulau Jawa (kata Si Kaki Berbulu). Kami berangkat pukul 11 dari Jakarta melewati macetnya tol puncak, kami masuk Ciawi mengarah ke Sukabumi. Macet. Tiga jam lebih kami habiskan dijalan dari Ciawi, dan itu masih sepertiga perjalanan. Kami menghemat waktu perjalanan dengan membawa bekal makan, sehingga tidak perlu mampir-mampir cari makan. Sepanjang jalan selepas Ciawi, dkk. kami melewati gunung kapur, yang ter-oke adalah pemandangan jurang, bukit, laut dan PLTU. Kami melewati Ci...du (yang kalau belok kanan Pelabuhan Ratu) saat hari beranjak sore. Melewati Surade, lalu masuk Ujung Genteng pukul 7-an, dengan membayar retribusi untuk mobil 5.000 IDR, 2.500 IDR per-orang. Ternyata penginapan kami masih jauh, melewati jalan gelap tak berlampu dan kualitas jalan luar biasa jeleknya. Setelah habis jalan gelap dan rusak, kami berhenti lagi dan membayar retribusi pada pak hansip. Lalu belok kanan menuju hotel kami, yang ternyata jalannya lebih parah, off road. Ini adalah jalan pantai Ujung Genteng


Kami menginap di Pondok Hexa. Dengan mas resepsionis mirip anggota RUN plus Tomas Nawilis (itu loh yg main film serem). Dapat kamar paling butut, maklum penuh. Si Muka Lebar pun memohon, up grade kamar. Sayangnya, penuh! Tak berhasil, si Muka Lebar pun komplen, pertama ceiling fan gak ada. Si mas nyengir, "tenang mba, diambilin."
Asli loh ceiling fan diganti dengan kipas meja, macem kipas yang dipake anak kantor kalo kantor lagi musim panas. Komplen kedua, lampunya kuning. Si mas nyengir lagi "kalo bule lebih suka yang kuning". Si Muka Lebar pun menatap si mas, dengan muka memble, "iya, mbak. Saya ganti yang putih" jawab si mas cepet sambil nyengir kuda. Setelah perubahan kecil, yang membuat kamar butut tampak mendingan, niat tidur di mobil batal padahal sudah siap bawa bantal.

Malam ini pun, didorong rasa enggan stay dikamar. Kami memutuskan melihat penyu bertelur. Dipanggilah tukang ojeg untuk mengantar kami, Acoy dan Jack pemuda lokal asli Ujung Genteng. Dengan tarif 40.000 IDR per-ojeg. Kok mahal, you'll know where does the price come from. Jalannya off road saudara-saudara dan tak berlampu! Dimulai dari jalan berbatu, pasir, kubangan, dan lumpur becek pastinya bergelombang berasa naik kuda. Sepanjang jalan si Muka Lebar memanjatkan doa-doa. Waktu tempuh dari hotel ke tempat penangkaran penyu 15-20 menit. Kami sampai dengan selamat di tempat penangkaran penyu!



Penangkaran penyu ini dikelola pemda setempat, beserta dinas perikanan. Kami harus mengisi daftar tamu. Dan membayar 5.000 IDR perorang. Kami pun menanti. Gue tetipu, ada yang bilang, bulan-ber banyak penyu berterlur. Ternyata dari Juli sampai September, bisa sampai lebih dari 30 penyu semalam. Dan jumlahnya menyusut. Berkurang dari hari ke hari. Menurut pak-pak disana, jaman ia muda dulu, bisa sampai ratusan ekor. Wow. Alias bulan Desember agak sepi lah. Preeet. Disana kami harus menanti hingga ada penyu yang naik untuk bertelur.

Sambil menunggu bisa megang anak penyu


Dalam penantian panjang bagai tak berakhir. Si Muka Lebar tak disangka tak diduga mendapat telpon ribuan kilometer jauhnya, dari benua tetangga, si Cupicupucups. Lumayan lah menghalau rasa bosan yang amat sangat. Sementara si Kaki Berbulu berdiskusi dengan fotografer yang memberi tips-tips berguna untuk memotret. Hujan pun turun, padahal belum tiba giliran kami. Sudah pesimis sih gak akan melihat penyu. Ternyata justru, itu rejeki kami. Takut hujan bertambah deras, kami pun dipersilahkan melihat saat itu juga. Namun tidak hanya kami. Semua orang!



Kami mengikuti arus orang berjalan dijalan setapak tanpa lampu yang berpagar (tau ada pagarnya, soalnya eike nabrak bo, ga sabaran nunggu orang-orang jalan lambat bener *jiwa supir angkot, bawaaannya pengen nyalip mulu*). Sedikit mirip jurit malam jaman sekolah dulu. Hehe, seru deh, indra pengelihatan kita (si Muka Lebar) mati total, gelapnya mentok (dilarang membawa lampu, senter, HP, dll.) dari kejauhan terdengar suara ombak menderu, ada pantai di depan kita, hujan rintik-rintik. Setelah menginjak pasir pantai, ternyata anginnya super kencang, hujan bukan rintik lagi (rupanya sepanjang jalan setapak tagi banyak pohon sehingga hujan dan angin tidak terlalu terasa). Untungnya mata sudah lumayan terbiasa walau tidak ada cahaya, pantainya luas, bisa lihat ibu-ibu jalan dan ada gerombolan orang di depan, agak jauh dari tempat kami masuk. Pasir pantainya halus sekali sehingga setiap jalan, kaki terperosok didalamnya. Ombak lebih keras terdengar. Dan hujan. Manusia cenderung takut pada apa yang tidak diketahui. Si Muka Lebar takut (si Cantik kenapa-kenapa, itu ujan dan angin kenceng, takut si Cantik masuk angin), karena gelap, angin kencang, suara ombak yang keras, hujan pula, si Muka Lebar minta balik, tapi nanggung kata Kaki Berbulu yang memaksa terus jalan. Kami pun berjalan menuju titik cahaya di depan.

Ini loh jalannya (diambil keesokan harinya)


Dengan terengah engah, basah, kedinginan. Kami sampai. Orang berkerumun. Si Muka Lebar mendadak berlutut (cape bo). Saat itu si Muka Lebar bertemu dengan si Mata Sendu, diantara sela sela kaki orang lain. Panjangnya mungkin 1 meter. Di dalam cekungan pasir yang cukup mengubur tubuhnya sendiri yang besar, dia menggali dengan sangat pelan.

Si mata sendu

Orang berkerumun, ribut, blitz berkilat mengabadikan. Penyu peka cahaya, namun hujan yang membuat kami bisa melihat penyu sekarang, juga membuat orang lain bisa melihat penyu. Jadinya massa yang cukup banyak lebih sulit dikendalikan. Si bapak pengawas pun pasrah, mau gimana lagi. Si Mata Sendu jelas terganggu dengan kehadiran kami, manusia, tapi telurnya masih puluhan lagi yang harus dikeluarkan (sotoy). Selanjutnya Si Kaki Berbulu berkata, si Mata Sendu telah cukup lama hidup, dan dari puluhan (atau ratusan) tahun hidupnya, diganggu manusia sekali-kali selama bertelur tidak masalah (pembenaran karena Si Muka Lebar merasa bersalah).
Malam itu si Kaki Berbulu dan si Muka Lebar pulang, hujan bertambah deras, gelapnya malam dan angin kencang si Muka Lebar bersyukur bertemu si Mata Sendu sekaligus menyesali pertemuan mereka yang tidak menyenangkan. Semoga kita bertemu lain kali di kesempatan yang lebih baik!

Papan informasi di penangkaran

Pantai Penyu Pangumbahan

Friday, 12 November 2010

singapore journey is about to begin - pusing tujuh keliling

Literally, now I am having a massive headache. *when I'm writing this post*

I woke up with headache, and it's getting worse,  I lost orientation and I can't focus...

It's begun with cheap cab drama...
Kaki Berbulu wanted a cheap cab, he refused to use dozen Blue Bird cabs park on the road, near the place we were standing... He decided to cross the street (we are on a boulevard). He left me, on the side walk, and he made me to cross the street over and over again (Kaki Berbulu said it was my own fault because I was following the wrong cab) until I finally stopped in the middle of the street, and people were looking at me like "is she crazy or something?", and Kaki Berbulu on the other side of the road yelled "what are you doing?"
I didn't know what I am doing, so I decided to go to the other side sidewalk (opposite to where Kaki Berbulu was standing) and he said "the cab is here!" and I'm really tired (lazy) to cross the street and said "oh, u turn around and pick me here!". He finally got on the cab and pick me on the other side...

We arrived at the airport check in, registered for tax free, and here we are sitting on starbucks, waiting for our flights. I bought pain killer for the headache, it doesn't work sofar... And kaki berbulu is trying to learn the books and maps we bought few days ago, like we will have a big test coming...


And suddenly, I remember this song by RHCP
"How long.. How long.. Will I slide... Seperate my side... I don't, I don't believe it's baaadd... Slit in my throat it's all I ever...
Hmmm... Into the paper cut... A cemetary where I marry the sea...
Hmmm -mumbling- you gotta take me on the other side... Take me on... Take me onn..."*


*maap kalo salah lupa-lupa ingat; that was years ago when I was in junior high school... I love RHCP*

Tuesday, 26 October 2010

Menangis Terbahak-bahak!

Gue memang kurang beruntung....

Sebenarnya gue gak hoki banget kalo soal diskon, tiket pesawat dan banyak hal lainnya yang berhubungan dengan irit mengirit...

Misalnya, gue beli tiket pesawat, dengan iming-iming "Hot Deals!" si airline AA.Di hari keberangkatan gue sebelahan sama senior gue, dan ngobrol deh kita...
Si Muka Lebar: "Dapet berapa mas tiket?"
Si mas2: "Emang kamu berapa?"
Si Muka Lebar: "waktu promo kemarin mas XXX Idr..."
Si mas2: "oh aku 1/2XXX Idr..."
Si Muka Lebar langsung asem mukanya, sompret! Itu masi mending, tiket lainnya ketika si Cabidut dapet YYY Idr Muka Lebar dapetnya 4YYY Idr (WTF ?!?!?).

Ga cuma harga tiket aja, buat barang diskonan juga begitu,
Disuatu malam, Muka Lebar pamer sepatu Aldo putih cantik super kerennya ke Chipz "Wow diskon jadi GGG Idr". 6 bulan kemudian, kami pergi ke toko tersebut dan si Chipz jadi beli sepatu yang sama, tapi warna hitam seharga GGG-500rebu Idr. Saaaampaahhhh.....
Dengan pembenaran, sepatu itu udah out of date bgt, warnanya item ga oke dan kaki liliput emang ga laku. Jd diskonnya gede (Hahaha-miris-)

Lama kelamaan gue mulai terbiasa dan jadi gak miris lagi mengetahui kalo gue selalu dapat barang lebih mahal. Tapi kejadian terakhir ini bikin hati gue miris bgt, bagai pengen loncat indah dari lantai 30 dan joget-joget di depan si Kuda. Well anyway gini ceritanya...

Ulang tahun Si Kaki Berbulu sudah dekat, dan karena sibuk gue sengaja cicil kadonya dari jauh-jauh hari. Kecuali kado utamanya. Karena udah mepet gue beli H-1. Sebenarnya gue masih ragu, karena beberapa saat yang lalu si Kaki Berbulu sedang mengincar jaket untuk ke Vietnam (our next destination for annual holiday). Hasil hunting pilihan dia antara Zara dan Top Man yang mana di Top Man ukuran dia gak ada.

Saat pembelian berlangsung, menimbang-nimbang si jaket Zara itu udah warna merah, kotak-kotak pula. Si Muka Lebar pun tidak terlalu suka motifnya, akhirnya dia yang saat itu ditemani Si Belalang Tempur Dubidubidam (Kepanjangan panggil Dudu aja) melipir ke Top Shop dan Yippie ukuran si Kaki Berbulu ada (walaupun ga yakin juga itu pas).
Si Muka Lebar: "Du, bagusan mana? Zara apa Top Man?"
Dudu: "Yang ini lebih mahal (Top Man)" -jawaban yang tidak menjawab-
Si Muka Lebar: "Iya sih, tapi gue ga suka yang Zara, motifnya jelek" -sebenarnya gak perlu jawaban-
Akhirnya dibeli lah si jaket Top Man yang menurut Si Muka Lebar, Kerennn Abis Paraahh, Motif yang luar biasa membuat pemakainnya lebih muda 10 tahun!!!(Kado yg bagus buat pria yg bentar  lagi meninggalkan kepala 2...)

Yap, setelah jaket diberikan, Si Kaki Berbulu mukanya aga datar, walaupun tetep bilang "Iya, suka kok jaketnya bagus... Makasih ya sayang". Wikennya kita pergi ke GI untuk birthday dinner...

Setelah makan, kita mampir ke Top Man dan sodara-sodara........ Jaket yang dimaksutttt diskon EMPAT PULUH PERSEN omigooootttttt! Mo pengsan rasanya (walaupun sisa 1 biji yaitu XL, tetep ajah), ditambah lagi statement si Kaki Berbulu sebagai berikut, "Ah, aku mau beli jaket Zara itu (yg merah kotak-kotak)" -yang artinya dia lebih suka yg Zara (&%!@@##@!!!!^&*(&*&%^#$@!!).

Kenapaaaaa?????? *sambil nangis bombai* 

nb: aku ekhlas kok baby beliin kadonya, cuma nyesek aja sama diskon dan statement lanjutannya... wakakakak-sambil menangis terbahak-bahak-

Thursday, 21 October 2010

The Battle of Horse and Squirrel

I love writing, but sometimes I just don’t have time because of this work. Most of my writings are unfinished stuffs, I saved in draft and I finish it later, and I kind of lost the moment of the story but whatever I will keep on doing what I am doing.


Anyway, apparently now I have time. While I am waiting for my boss revising my work, and I am here sitting in my cubicle having a good time with famous amos and brainstorming. Actually I can do anything else more important (in this case important for my work) instead of writing this. But let me see this office, people are really busy with their work. My boyfriend, Kaki Berbulu, which happens to be my colleague, has spent his birthday at work. And we didn’t even have time to have a birthday dinner, and now he has done his works, here comes my works. Ahhhh…. I really need time out.


The most painful moment of revising a report that is when your boss will say “please make general change for this [stupid] arrangement” while like hundreds hours ago, I have the exact arrangement she wants then a great senior of mine walk in and said “please change the arrangement into this [as my brilliant mind told me so]” and I said “but, doesn’t she likes better this arrangement [in which I acknowledged from the first time I work with this two people. I have to change the arrangement over and over again, just to follow them. And it ended that we (me and the great senior) has to follow her since she’s the boss]” and he said “just change it [as my brilliant mind told me so]”.


And here we go again; I have to face the truth that I am just a small insect [I choose to be lady bug] in this jungle trapped in the battle of horse and squirrel [I dedicate the lions for my partners]. From my seat I can see my co-worker, which has also trapped in the battle of horse and squirrel. Collecting his friends, to find out, how to change the arrangement in the quickest way. There’s no way dude you have to change it one by one…


Why do people not learning from their experience? Why do we have to fall into the same hole? And you have to drag all of us in the hole of never ending change of arrangement.


Happy Thursday!

Happy working eh changing the arrangement…

Wednesday, 18 August 2010