Daisypath Anniversary tickers
Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Sunday, 4 January 2015

Let's build a nest - Part 1

A wife need a house, a new bigger nest to put all this books, plates, bowls, bags, shoes and clothes... Seriously. Kalibata is about to blow up, with all the stuffs we collect along the journey.

We've been trying to make this post for a long time, and now it's the time....


This story is started from Muka Lebar dream to have a perfect house, not only a house but a place she called home, that meets her criteria:

  1. A garden
  2. No balcony
  3. No walls between rooms other than bathroom and bed room.
  4. The land should be at least 100 meters sq.
On our second years of marriage, we finally have budget (limited) to start looking for a house. YAAAAY!!!

This is the real challenge, property price in Jakarta is insanely high! 

For our budget, definitely. We try to look at the outskirt area (Ragunan, Cilandak KKO, Depok, we won't bother to see a house in BSD, price is too high and too far...) and it brings nightmare only by going to see the house... the traffic is really bad, small alley, small street, one car street... on a 90 meters land, build a 120 meters building, very high price (unbelievable). 

It suffocates me, every time:
  1. Trip to see the house (more than 2 hours, can you imagine how to go to work in this traffic?)
  2. Open house, (welcome! walk few steps another wall, end of the house...)
  3. Price list (there are more the digits on the price list than the steps you can take from the front door to the back door....); and
  4. journey back to our home in Kalibata (another hours on the traffic).
The seller/mid man has this NASTY trick, they put on a price with our budget on the adv. and when we visit the house, the price is not they advertised! It's a big disappointment, when we arrived there (after going through 2 hours traffic) knowing the property they sell is not what they advertised. I wish I can claim them by hourly rate, for the hours spent wasted on their fake advertisement. 

After 6 months, having this weekend routine, it breaks my spirit. I'am sick of looking for a house and started to see a bigger apartment.

Which bring more headache. I did fell in love with a unit and booked one, turns out the developer do not have cooperation with my bank (cancelled), then I fell in love (I fell so hard it hurts) with another unit, with price double our budget. Ha-ha! 

It's like a journey to find your significant other, you find one, getting to know each other, you fell in love but it just did not work. you broke up, it's gone.... 
I wonder, why it is so hard to find a home? is it me? or is it the property blood sucking market, that demand too much from me? 

I have a serious standard of a home and when the perfect price charming come, it shoves me away down to the gutter.... Only Mbak-mbak and Mas-mas coming with European cars that can afford the real good property, or some people with money from God know where that can afford them. It's unbelievable, I come to a low point and wonder how could a good honest hard worker couples like us, cannot afford to buy a property in the city we work our ass off? 

So, desperate, we start looking at a place the least expected, Bekasi.
  • Advantages: It has good access to Jakarta, (plenty of choices for access) All you have to do just pick a high good ground free from flood (but all Jakarta area are flooded in heavy rain... so flood is normal... right?!)
  • Disadvantages: My in laws live in Bekasi. Self-explanatory.
We visited 4 houses in total, here's the summary:
House 1 - Rumah Nenek.
  • Advantages
Spacious, High ceiling, 170sqm land, 120sqm house, perfect.
Smelly house because a 90 y.o. old lady we called "Nenek" live alone (no problem, we can renovate the house).
good price
  • Disadvantages
Family drama. I love drama, i will tell you the 'brief'story (can you imagine the complete detail of the drama? I will took pages!)
The house attached with the youngest son of this old lady and the son despite he is a 40 year old man, acts like a little boy.
Here is the story, Nenek is from Padang, with matrilineal bloodline (means the woman continue the family bloodline, not the man). Nenek only has 2 kid, the eldest daughter and the youngest son. In accordance to their culture, if Nenek passed away, all of her property shall be owned by the daughter. This is the problem, when Nenek try to sell the house to us, the youngest son try to protest her mother decision, afraid that the money from the sales will be for his older sister. After fighting in front of us, Nenek is upset and said that She has the right over the house and the money will be for her, since she will spent her old days in Europe with all her friends (then we know that Nenek is world traveler, just like me!) and the next day we come to take the copy of certificate to apply the house loan. What happen next? It never happens. The certificate of the house is gone, either Nenek forget where to keep it or someone took the certificate, it remains mystery that I do not want to solve.

House 2 - Rumah Ibu (Nenek's Daughter) - Yes, daugther lives nearby
  • Advantages
Spacious, High ceiling, 190sqm land, 150sqm house, perfect.
Need serious fix (no problem, we can renovate the house).
good price
  • Disadvantages
The actual land is bigger than in the certificate, and this might jeopardize our loan application with the discrepancy. 

House 3 - Rumah Mbak  I 
  • Advantages
Spacious, High ceiling, 170sqm land, 150sqm house, perfect.
Old house but in good condition 
  • Disadvantages
30% above our budget.

House 4 - Rumah Mbak  II (sister of Mbak I) - yes, the sister lives side by side.
  • Advantages
Spacious, High ceiling, 170sqm land, 150sqm house, perfect.
good price 
  • Disadvantages
house is 50cm below the street level, even the water level is higher then the house. So it needs a serous fix, not just a renovation but we need to demolish the house and re-build it (need more money to re-build a house!)

Note: All of this house located in the same street with my in-laws. Purrrrfect.....

Some say, picking a house is like picking a husband/wife... if you are meant to be with each other you will be... no matter how hard, difficult, impossible it may seem, you will be together.

We'll see, which house is meant to be with us....

Thursday, 15 July 2010

Randomly walking, incidentally having great dessert and finally watching 3D

Malam ini dengan semangat tinggi penghematan dan ingin hidup sehat
kami memutuskan untuk jalan kaki ke Grand Indonesia!


Ini adalah kedua kalinya kami berjalan ke Grand Indonesia. Kami mengambil rute yang sedikit berbeda, agak jauh dan melewati gang-gang gelap nan sempit. Maksud hati menghindari polusi udara, kami melewati gang motor, eh setelah berjalan di gang gelap nan sempit, ternyata ada yang membakar sampah sama aja dong. Polusi.
Kami kemudian keluar di Jalan Jendral Sudirman. Jalan kaki di jam pulang? Hmmm, pengalaman yang menarik, banyak pekerja menunggu bis di halte, banyak bis yang berhenti seenak jidat (padahal sudah ada halte, tapi bis yang datang kemudian, malah berhenti di sebelah bis yang sedang berhenti di halte, malah ada yang posisinya menyerong!), terotoar di Jalan Jendral Sudirman sunguh sangat lebar dan bagus, sayangnya terotoar tidak hanya dipakai pejalan kaki, tetapi juga sebagai jalanan motor (tukang ojek mungkin?), jelas mengganggu. Tapi diantara semua hal yang mengganggu, ada satu yang PALING MENGGANGGU.

BAU PESING.
Baru tau kalo ternyata pohon-pohon atau dinding bisa dijadikan tempat untuk buang air. Selain trotoar di Jalan Sudirman, Si Muka Lebar mendapati pengamen yang buang air di papan gedung di sebelah Halte Tosari, iuuhhh. Wow, betapa idiot besernya pria-pria itu?

Sesampainya di Grand Indonesia, kami masuk ke Harvey Nichols (dengan keringetan dan kumus-kumus) kami memutuskan untuk makan di Ranch Market yang baru buka dan ternyata Ranch Market tidak memiliki tempat makan ditempat (dine in?). Super lelah karena habis berjalan dan kaki pegal, di depan Ranch market ada Resto Ninety Nine, dan dengan implusif (lapar dan capek luar biasa setelah berjalan) kami memutuskan makan disitu.
Ninety nine adalah resto yang menyediakan beragam jenis makanan, pasta, steak, pizza, makanan indonesia. Dengan suasanya yang nyaman dan modern. Jadi ruang smoking terdapat di dalam dan ruang non smoking di luar yang open area dan orang bisa melihat apa yang kita makan (karena gue juga melihat makanan orang-orang).
Si kaki berbulu memesan oxtail soup yang digoreng dan si Muka Lebar memilih paket promo yaitu segala jenis masakan salmon (Australian salmon) akan mendapatkan dessert for free. Jadi lah Salmon with padang sauce ditemani shoestring fried rice dan dessertnya apple tarlet with vanilla ice cream. Minumnya kita yang biasa aja air mineral, dan ditengah-tengah makan kita pesan crushed berry tea, karena mupeng melihat orang yang minum itu.

Oke si oxtail datang, rasanya enak, kuahnya pekat, gelap dengan berbumbu terasa jelas dengan kentang tomat dan wortel tak lupa genangan minyak kuning yang jumlahnya wajar (termaafkan lah). Dagingnya sendiri digoreng, empuk dan si Muka Lebar berpendapat, banyak lemaknya (banyak juga dagingnya sih) jadi lumayan, nasi diletakan di dalam mangkuk (cara akan yang aneh), jadi ada 3 piring tempat sup dalam mangkok besar, tempat buntut dan mangkuk nasi (belom emping dan sambel yang dileakan di tempat terpisah). Meja langsung penuh. Tak lama kemudian ikan datang, Salmon Saus Padang, enak dan pedas. Ini baru namanya saus padang! Nasi goreng karena judulnya shoestring fried rice, Si Muka Lebar tidak terlalu optimis dengan rasanya, dan ternyata betul, nasi goreng pucat dengan serutan wortel dan bawang daun, dengan rasa yang anyep, oke pas lah dengan ikan saus padang yang sangat berbumbu. Ikannya cukup besar, segar dan enak. I considered it as i ate Salmon with the rice as side dish.
Selesai menu utama (Salmonnya tidak habis jadi dibungkus) kami masuk ke penutup. Crushedberry datang, stawberry yang dihancurkan dalam flavoured tea, dengan daun mint. Enak! Oke datang lah Apple Tarlet with Vanilla Ice Cream. Ya, ampun enak bangeeet! Apple tartnya masih hangat, dipotong menjadi empat bagian dengan apel yang empuk, taburan cinnamon, dan pie crust yang gurih dan renyah di pinggir. Baunya itu loh, cinnamon, vannila, dan asin butter, esnya dingin langung meleleh, hiasan karamel dibawah piring bersatu dengan lelehan Vanilla Ice Cream jadi super manis tapi tidak merusak rasa si Apple Tarlet tadi, ini enaaaaaakk sekali saudara-saudara (sampe mau nangis makannya.. oke lebay si Muka Lebar itu kelaparan namanya). What can be better than a warm sweet good smell delicious dessert with ice cream on top of it?
Selesai makan dengan hati senang, Si Muka Lebar menemukan (hasil pengamatan sambil jalan ke atas) bahwa si apple tarlet tadi sebenarnya terdiri lebih dari 4 potong, maksudnya di meja lain yang memesan menu yang sama Apple Tarletnya tampak lebih banyak, jadi Si muka Lebar asumsikan mungkin kalau promo hanya dapat sebagian.
Kami segera berjalan ke Blitz Megaplex. Oke, saat ini selain promosi kartu kredit buy 1 get 1 (seperti dalam cerita sebelumnya kami tidak memiliki CC yang berpromo buy 1 get 1) di Blitz Megaplex ada promo Blitz Summer Passport. Berlaku sampai Bulan September 2010. Sistemnya adalah apabila kita nasabah Bank CIMB Niaga kita dapat membeli Blitz Passport dan akan mendapat 3 tiket nonton untuk weekdays dan 2 weekend. Ditambah 5 kupon bonus (buy 1 get 1 3D, upsize popcorn, discount games dan souvenir, etc), Blitz Passport hanya bisa digunakan ditempat dibelinya Passport tersebut.
Ini tahun kedua kami membeli Blitz Passport dan sangat menguntungkan (lumayan lebih hemat), walaupun harga blitz passport tahun ini naik 25.000 IDR, tapi dapet voucher buy 1 get 1 untuk nonton 3D. Akhirnya malam ini kami memutuskan untuk menggunakan voucher buy 1 get 1 nonton 3D karena kami belom pernah mencoba nonton 3D di Blitz Megaplex.

Kami akan nonton Despicable Me.

Nnton 3D di Blitz memang beda (ya iya lah beda bioskop), kacamatanya lebih nyaman, karena seperti kacamata betulan dan bisa di dobel dengan kacamata kita. kualitas 3D juga lebih baik. Filmnya sendiri, cukup aneh dan lucu dan menarik. Tidak semengharukan Toys Story, tapi akhirnya so sweet, yah namanya juga film kartun.
Kami pulang larut malam, kenyang dan bahagia.

Kecuali bagian bau pesing (euh, it's gross)


Wednesday, 9 June 2010

A Beautiful Sunday Morning

Setelah gagal minggu lalu, akhirnya di Minggu pagi yang mendung ini kami memutuskan untuk berpiknik di Monas!!! Formasi piknik kali ini adalah Si Muka Lebar dan Chipz, kemudian ada teman kerja Chipz, Mba Indreeinong dan teman SMP kami the coolest girl on earth, Ravanovanakeren! Dibuatlah rencana sehari sebelumnya, kita akan membeli sandwich. Everybody eat sandwich at a Picnic, accompanied with Apple Juice plus pretty cupcakes or muffin. Hm, lovely...

(terinspirasi Piknik Samantha di Sex & the City 2, minus the desert, the haute couture dresses, the Manolo Blahnik shoes, and the camel) but we try our best to dressed up (oh this is the best we can do!).

Oke perjalanan menuju piknik dimulai dari Chipz dan Mba Indreeinong menjemput si Muka Lebar (yang telat bangun). Karena ada acara malam sebelumnya Chipz tidak dapat membeli makanan picnic yang telah direncanakan. Jadilah kami mampir ke Circle K untuk membeli makanan piknik, dan saat itulah hujan turun (yah kita memang well prepared banget!). Well, maybe it's the sign that we'll have a good day (optimis). Ravanovanakeren telat bangun dan harus boker dulu (gila yah dia pake boker padahal si Muka Lebar -telat bangun juga- gak pake boker segala!).
Sampai lah kami di Monas, hujan telah berhenti, hanya awan tipis menggantung di langit Jakarta. Oke, great! Maka kami turunlah dengan tas super gede si Muka Lebar (Membawa topi super lebar si Maria Mercedes, selendang dan buku bacaan piknik). Chipz dengan dress hijau dengan bahan ringan dan Mba Indreeinong mengenakan celana pendek dan sweet shirt, both with candy color tak lupa si plastik Circle K dan tikar plus koran.
Tahukah kalian kalau di Monas hari Minggu banyak orang olah raga?
Well, as (maybe) this is our first time, visiting Monas in a cloudy Sunday morning.
We're clueless...

jadilah kami berjalan masuk Monas (yang penuh dengan orang-orang -yg mungkin belum mandi dan keringetan- pakai baju olah raga), dilihatin orang-orang, disuitin mas-mas. Oke, untung gak jadi pake wedges shoes (semangat picnic in style). Kami dengan cepat masuk hutan, dan mencari tempat yang tepat untuk menggelar tikar! Setelah melewati mas-mas piknik di trotoar, mas-mba pacaran dengan lagu mellow mendayu-dayu dari HP (aww so sweeet...), we found the right spot. Tanah lebar yang tidak dekat dengan trotoar diatasnya banyak pohon.
Mulai lah piknik pagi ini, makan dan bercerita. Tiba-tiba, seorang pria (mas-mas), mendekati tempat kami dan memutari tempat piknik kami, DUA KALI! Sinting gak sih, kita langsung was-was plus ketakutan. Utung setalah mutar-mutar dia pergi dan sambil jalan dia memutari pohon dan lampu taman, masing-masing, dua kali. Kita memutuskan dia orang gila (Berharap arsitek Denmark yang menghampiri kita, hihihi...). Tidak cukup si mas-mas putar-putar, tak lama kemudian ada seorang pria (yang menurut Chipz ngeliatin kita dari tadi), sadar sedang diperhatikan Chipz dengan insting Meerkat-nya, langsung bangkit,
dan memandang pria itu balik. Kami tidak nyaman dengan perhatian berlebih. Dan teruslah kegiatan saling memandang terjadi beberapa kali, hingga pria itu menelfon si Chipz dengan lebay-nya (i should warn u, Chipz is Super Lebay 1, means SHE IS EXTREMELY LEBAY!!!)
"Dia nelpon temen-temennya! Dia manggil temen-temennya!!!!!"
Menghasilkan Panik dan Kebelet Boker (Panik cenderung menghasilkan rasa tidak nyaman di perut, terutama yg belom boker, jd kebelet, pernahkah kalian Panik sebelum presentasi? apakah diiringi HIP -hasrat ingin pup-?).


Setelah pria itu berlalu, dan kami mengambil kesimpulan, pria itu menelpon pacarnya, dan tempat ia nongrong biasanya adalah tempat piknik kami. dan dalam pembicaraan telponnya dengan sang pacar dia menyebutkan "babe, aku diliatin cewe aneh dari tadi. ihh, aku kan udah punya pacar. tapi dia ngeliatin aku terus!". Kesimpulan (sepihak) kami membuat suasana lebih tenang, namun tidak berhasil mengilangkan HIP (Sial!).

Belum lagi si Ravanovanakeren yang belum datang-datang. walaupun telah diberi ancer-ancer posisi kita (yang agak antah berantah di tengah hutan monas), seperti masuk ada orang senam pagi (yang kayanya pas Ravanovanakeren datang udah bubaran), naik trotoar, ikutin sampai ada trotoar yang berumput, belok kiri, ada orang pacaran (yang kita berdoa agar si orang pacaran gak pindah biar Ravanovanakeren lihat), lalu kami di sisi kiri (sebenarnya lebih mudah mengatakan posisi kami sejajar Museum Gajah, yang baru dikatahui kemudian).

Akhirnya Ravanovanakeren sampai juga, dan mulailah kami bercerita dan foto-foto diselingi HIP tingkat tinggi, yang hanya hilang kalau Ravanovanakeren meminjamkan kameranya si cantik, kepada si Muka Lebar (yah ketauan deh yang kebelet siapa) dan menyebabkan si Muka Lebar dan Mba Indreeinong naksir berat dengan kamera itu.

(yes HIP tiada tara kalo ga megang kamera)

we're happy people!!

Ravanovanakeren dengan kameranya yang cantik (pengen moto kameranya tapi bigung gimana caranya)

Si muka lebar as photographer assistant (yeay, i'm photographer in the making... tunggu tanggal mainnya!)


"Tiny Mini Monas and Chipz"

Hasil piknik kali ini adalah, foto-foto cantik kami berbagai pose (oke si Muka Lebar gak ada muka cantik karena gak bisa diem difoto sisanya kebelet boker). Kami pulang saat matahari mulai tinggi dan HIP benar-benar tidak dapat ditahan lagi.
Thanks to Ravanovanakeren for the camera, the photo session and editing the pics!

Monday, 7 June 2010

Jalan-jalan Jakarta

Suatu hari yang absrud, si Muka Lebar dan her partner in crime, Chipz menonton acara Travel and Living, dimana dalam tabung kaca tersebut (bukan tabung lagi sih it's a plasma TV anyway *sooombonggg* hehe) si pembawa acara sedang berkunjung ke sebuah daerah yang menjual sandwich dengan irisan daging alamak jang tebalnya kaya seluruh jilid Engelbrecht ditumpuk. Yummy. Melihat sandwich dengan daging berlapis-lapis. maka terbitlah keinginan untuk membuat sandwich serupa.

Namun kalo hanya membuat sandwich saja tidak seru. Harus bernilai ekonomis dong. Ayo, kita jualan sandwich. Namun kalo dipikir-pikir susah juga jualnya. Kalo ngasong, takut disidak Dispol PP. Kalo nitip repot dan ga langsung kita yang jual. Akhirnya kita memutuskan untuk promosi ke teman-teman terdekat. Tapi kita butuh momen biar orang-orang itu mau beli sandwich!

Jadilah kita membuat program Jalan-jalan Jakarta.


Intinya jalan-jalan naik busway, pesertanya teman-teman kita. Pada suatu minggu pagi berkumpulah teman-teman kami, Muka Lebar, Chipz, si kembar Nakula-Sadewa (pengen nyabut Karl dan Klaus sih... Hihihi), Ship Man, Kaki Berbulu, si Daisy Bebek dan kekasihnya Hensem Boi.

Jadilah kami melakukan perjalanan dengan pertemanan yang random yaitu teman kuliah Chipz, teman SMA si Muka Lebar dan Chipz dan SMP si Muka Lebar dan Chipz tak lupa si Kaki Berbulu. Hari Minggu pagi dari Halte Busway Dukuh Atas ke arah Kota Tua, lalu turun di Museum Gajah di depan Monumen Nasional.


Tahukan kalian, tarif masuk Museum Gajah hanya 700 IDR?



Museum Gajah adalah museun yang berisis peninggalan masa lalu (ya iyalah museum!!!) isinya prasasti dan arca, dewa-dewi, raja, Gajahmada (satu-satunya nama yg gue inget), ada peninggalan pra sejarah juga. Kebudayaan tanah liat, kebudayaan batu besar, kebudayaan perunggu (disekolah disebut megalikum, neolikum? ya itu lah) guci-guci, perhiasan emas jaman dulu (di lantai 2), my favorite part of the Museum adalah kebudayaan suku-suku di Indonesia (Namanya alun-alun Indonesia? Eh, itu mah adanya di Grand Indonesia). Indonesia itu, terdiri dari banyak daerah. Dan di setiap daerah ada banyak suku-suku dan setiap suku punya kebudayaannya sendiri.


Kemudian datang lah Daisy Bebek dan Hensem Boi, dengan mainannya "Eh, rek main Geocache yuk!" berbekal I phone miliknya, sepakatlah kami untuk ikut main. Geocaching adalah permainan mencari barang yang disembunyikan pihak lain, dengan mengikuti GPS. Jadi kita jalan gak tau kemana, dengan pria-pria sebagai penunjuk jalan. Muka lebar berperan sebagai pengabadi moment (tukang foto). Ternyata GPS ini membawa kami ke Museum Prasasti yang jaraknya 15 Menit dengan jalan kaki, dari Museum Gajah.


Ternyata trotoar Jakarta cukup bersahabat, dan udara walaupun panas.
Banyak pohon rindang di trotoar sehingga panas tak terlalu menyengat.
Sampailah kami di Museum Prasasti yang ternyata adalah Kuburan Belanda. Uang masuknya 1000 atau 2000 IDR. Tidak boleh membawa kamera, karena terdapat biaya untuk membawa kamera. Akhirnya kami masuk, dan ternyata ada banyak group fotografer yang sedang mengambil gambar di Kuburan Belanda tersebut. Kami sempat menuju makam Soe Hok Gie, kemudian mencari-cari barang yang disembunyikan. Viola akhirnya setelah berputar-putar Nakula dan Hensem Boi (I decided He's Nakula karena, katanya karakter Nakula adalah seorang pemikir -so i read-, which means the other twin brother will be Sadewa) menemukan barangnya.



Setelah barang yang dicari ketemu,



kami pun berfoto dengan Prasasti yang ada di Museum Prasasti

(Baca Nisan),


yang mana disalah satu foto kami ada bayangan-bayangan......

pohon maksudnya?

Iya pohon kok!

(meyakinkan diri)


Siang pun datang, kami memutuskan untuk makan siang, tak lupa Sandwich didistribusikan kepada pelanggan, kami juga masih makan Nasi Padang yang teretak di dekat Museum Prasasti.
Our first customers Nakula-Sadewa (Yippiee!)

Setelah istirahat kami memutuskan untuk ke Kota Tua menuju Museum Fatahillah, dengan menggunakan Angkot. Sesampainya di Museum Fatahillah, ternyata ada banyak orang disana, karena ada bazaar. Karena banyaknya orang di bangunan museum utama dan museum-museum lain. Kami hanya mengahabiskan waktu di tenda-tenda bazaar, menyewa Sepeda Ontel, berusaha menaiki Enggrang (hanya hensemBoi yang berhasil), Chipz dan Muka Lebar membatik, Kaki Berbulu nonton film tua.

Menarik. Sayangnya Bazaar tersebut tidak setiap hari ada di Museum Fatahillah. Hari telah sore, dan kami sangat kelelahan dan berkeringat setelah main seharian. Pulanglah kami dengan gembira naik Busway.


Moral of the Story:

Hari yang gembira ini bermula dari ide kecil:


Makan Sandwich ---> Jualan Sandwich ---> Jalan-jalan Jakarta ---> Main Geocache ---> Museum Prasasti ---> Museum Gajah ---> Gembira.

Dan ternyata Jakarta isn't really bad at all, transportasi umum mungkin masih kurang tapi sudah ada (tinggal ditingkatkan), trotoar lumayan, tempat wisata juga banyak.

We love Jakarta!